Sampingan: Pencuri Cantik dan Korupsi

PENDAPAT, KORAN TEMPO, 19 APRIL 2011

Apabila duit tersebut diduga kuat hasil korupsi, maka pihak bank harus dengan legowo menolaknya. Biarpun duit itu nilainya diatas digit sembilan. Memang salah satu kerugiannya adalah dana besar tidak akan mampir ke bank. Akan tetapi, itulah kewajiban bank untuk mendukung pemberantasan korupsi.

Kasus kejahatan perbankan yang belakangan terungkap seperti membuka borok pedalaman industri perbankan. Perkara pencurian duit nasabah tak ayal menjadikan bisnis yang bermodalkan kepercayaan masyarakat itu kian mengandung kegelapan.

Pembobolan dana nasabah Citibank yang diduga dilakukan Melinda Dee, dengan kerugian awal sekitar Rp 17 miliar, disinyalir juga melanda bank yang lain. Bareskrim Mabes Polri setelah bertemu dengan Bank Indonesia dan direksi beberapa bank mengungkapkan, di Bank Mandiri terjadi pencurian duit nasabah oleh pegawainya sendiri dengan kerugian hampir Rp 18 miliar, di Bank Danamon Rp 1,9 miliar dan 110 ribu dollar Amerika Serikat, serta BNI Rp 4,5 miliar (Tempointeraktif, 5/4).

Kemudian modus yang dipakai pun hampir sama, mencairkan deposito dan menarik tabungan nasabah dengan memalsukan tanda tangan nasabah di slip penarikan. Selain Citibank, Bank Mandiri, Bank Danamon, dan BNI, di bank lain setali tiga uang. Pegawai menggarong dana nasabah. Khususnya pada bank yang memiliki aset di atas Rp 50 triliun, seperti BRI, BII, Paninbank, dan Bank Pundi Artha Sejahtera.

Purba

Sebenarnya modus dalam kasus Citibank dan bank lainnya adalah modus yang purba, kuno, konvensional. Dengan dasar kepercayaan, nasabah menandatangani cek kosong untuk penarikan uang dalam jumlah besar, yang pencairannya dilakukan oleh pegawai yang memiliki otoritas tertentu.

Purba dimaknai dengan tidak digunakannya peralatan information tecnology. Teknologi informasi hanya digunakan oleh oknum pegawai untuk mentransfer dana ke rekening lain setelah duit nasabah dikeluarkan dari brankas. Jika dibandingkan dengan pencurian rekening, seperti kerja hacker yang membobol automatic teller machine,, modus yang diduga dipakai pencuri cantik Melinda Dee tergolong sungguh kuno.

Tentunya modus yang konvensional itu akan mempermudah penyelidikan maupun penyidikan penegak hukum.  Artinya, dengan menelusuri modus tersebut, pengungkapan kasus pembobolan dana nasabah Citibank ataupun di bank yang lain tak membutuhkan waktu yang lama. Pendek kata, duit nasabah akan dengan cepat ditemukan dan dikembalikan.

Hasil Korupsi

Kasus Citibank menjadi krusial ketika ditarik pada isu tindak pidana korupsi. Bayangkan, tatkala uang yang diduga dicuri oleh pegawai bank ternyata adalah uang hasil tindak pidana korupsi.

Bukan sebuah rahasia bahwa para koruptor mencuci harta hasil korupsinya dengan berbagai cara. Membeli aset berupa tanah, rumah, kendaraan, atau mengalihkannya ke bursa efek. Yang biasa didapati adalah menyimpan harta korupsi dengan menyimpannya di bank, baik bank dalam negeri maupun luar negeri.

Dana disimpan untuk mengelabui kejaran penegak hukum. Untuk aset korupsi yang berada di dalam negeri, para koruptor mencoba menghapus jejak hartanya dengan mengalihkan kepemilikan aset dan rekeningnya ke orang terdekat atau orang yang dipercaya akan bungkam seribu bahasa ketika harta korupsi mulai tercium penegak hukum.

Akan tetapi, agaknya usaha si koruptor menemui gang buntu. Sebab, meski mungkin harta korupsinya lolos dari incaran penegak hukum, ternyata malah jatuh ke tangan pegawai bank tempat ia menyimpan duitnya. Niat mengamankan harta hasil dari menjarah uang negara, habis digondol pegawai bank.

Pada bagian itu, oknum pegawai bank melakukan pencurian yang cantik. Tanpa harus bersusah payah mengumpulkan duit, dengan modus yang purba uang milyaran rupiah bisa dikumpulkan.

Menguatkan Pengawasan

Dalam kasus Citibank, apabila duit yang diduga dicuri oleh Melinda Dee, ternyata terindikasi duit hasi korupsi maupun kejahatan lainnya, maka penegakan hukum akan mendapat buruan yang besar serta menggiurkan. Penegak hukum akan dapat mendayung sekali, terlampauilah dua atau tiga pulau.

Isu dalam kasus Citibank lalu ditarik ke seputar gagalnya pengawasan internal yang dilakukan pihak bank. Refleksi harus dilakukan agar kedepan tidak terjadi lagi kasus serupa. Pengawasan, misalnya, dilakukan dengan menerapkan prinsip know your customer. Mencari tahu terlebih dahulu terhadap keberadaan duit yang akan ditaruh atau dikembangkan oleh calon nasabah.

Apabila duit tersebut diduga kuat hasil korupsi, maka pihak bank harus dengan legowo menolaknya. Biarpun duit itu nilainya diatas digit sembilan. Memang salah satu kerugiannya adalah dana besar tidak akan mampir ke bank. Akan tetapi, itulah kewajiban bank untuk mendukung pemberantasan korupsi.

Selanjutnya, permasalahan yang terjadi di bank biasanya karena tidak diterapkannya tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Untuk mengatasi permasalahan di internal industri jasa keuangan, termasuk bank, Zulkarnaen Sitompul (2005), mengemukakan tiga pendekatan untuk memprevensinya. Pertama, penguatan pengawasan internal (internal checks). Kedua, penerapan tata kelola yang baik (good internal governance). Ketiga, disiplin pasar.

Tiga pendekatan ini simetris untuk menguatkan perbankan. Bank harus menguatkan internal checks dan tata kelola internal perusahaan yang baik. Kurangnya pengawasan internal bank memungkinkan pegawai bank menyalahgunakan jabatan yang melekat padanya. Pengawasan internal yang kuat adalah pembatas awal untuk menciptakan manajemen pengendalian institusi.

Di sisi yang lain, Bank Indonesia, sebagai bank sentral, harus menjadi pengawas yang adil terhadap bank yang berada di bawah pengawasannya. Bank Indonesia berkewajiban menjaga agar tidak terjadi monopoli dan persaingan perbankan yang tidak sehat antarbank.

Dengan dukungan penegak hukum yang jujur dan bersih, serta kuatnya pengawasan internal setiap bank, dan sikap adil Bank Indonesia, maka Bank diharapkan tidak menjadi lumbung hasil korupsi. Dan, si pencuri cantik tidak akan lagi leluasa melakukan pencurian yang cantik, yang merugikan nasabah.

–Hifdzil Alim, Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum UGM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s