Gurita di Balik Gayus

PENDAPAT, Koran Tempo, 13 Januari 2011 (NF)

Kelompok ekonomi kuat dan kelompok politik memaksa masuk mempengaruhi sistem penegakan hukum kasus Gayus. Pemaksaan dilakukan dengan menyodorkan tumpukan rupiah serta godaan politik atas posisi maupun jabatan tertentu. Inisiatif skema ini berasal dari luar penegak hukum. Sedangkan skema kedua bersumber dari inisiatif oknum penegak hukum. Yakni dengan mengundang kelompok ekonomi kuat dan kelompok politik masuk ke sistem penegakan hukum

 

GAYUS Haloman Tambunan, tersangka penggelapan pajak, mengungkapkan kekecewaannya kepada penyidik yang memeriksa perkaranya (3/1/2011). Dalam nota pembelaan (pleidoi) berjudul “Indonesia Bersih, Jaksa dan Polisi Risih, Saya Tersisih”, ia menengarai penyidik “pilih kasih” ketika mengungkap aktor di seputar kasusnya.

Gayus mengaku sudah menyerahkan barang bukti berupa laptop, telepon genggam, dan flashdisk. Barang bukti itu sebagian berisi percakapan mengenai rencana bagi-bagi duit ke oknum polisi, jaksa, serta hakim. Akan tetapi, tak ada tindak lanjut yang berarti atas barang bukti tersebut. Bahkan nasib barang bukti itu tak jelas lagi.

Membaca Kejanggalan

Mencermati pleidoi Gayus di satu sisi memperjelas wacana publik yang menengarai adanya sistem korup dalam bingkai penegakan hukum. Meski di sisi yang lain, penyidik (penegak hukum) menyangkal dengan dalih memiliki kewenangan untuk memperlakukan serta menilai barang bukti dan kesaksian seseorang (Koran Tempo, 5/1/2011).

Namun, beberapa fakta dan fenomena dugaan keterlibatan oknum penegak hukum yang lalu-lalang di seputar kasus Gayus menghempaskan kengototan penyidik. Bacaan Indonesia Corruption Watch (ICW) atas sepuluh kejanggalan di seputar kasus Gayus paling tidak memberikan jalan masuk untuk menemukan dugaan sistem penegakan hukum korup yang bekerja dalam penuntasan kasus Gayus.

Misalnya, meski kepolisian menyita savety box Gayus sebesar Rp 75 miliar, perkembangan penyidikannya menjadi buram. Kepolisian juga belum memeriksa tiga perusahaan besar (PT Kaltim Prima Coal/KPC, PT Arutmin, dan PT Bumi Resources). Padahal Gayus di muka hakim mengaku menerima 3,5 juta dollar AS atas bantuannya membuat surat ketetapan pajak tahun 2000-2003 dan 2005 bagi PT KPC, membuat surat banding dan surat bantahan untuk PT Bumi Resources pada tahun pajak 2005, dan mereview undang-undang baru program sunset policy pemerintah di bawah tahun pajak 2007 bagi PT KPC dan PT Arutmin (Tempointeraktif, 8/12/2010).

Selanjutnya, walau Kompol Arafat Enanie dan AKP Sri Sumartini, perwira menengah kepolisian, telah divonis bersalah dalam kasus Gayus, beberapa petinggi kepolisian yang disebut di persidangan belum tersentuh secara hukum. Lalu, kepolisian menetapkan Gayus serta dua temannya, Humala Napitupulu dan Maruli Pandapotan Manulung, sebagai tersangka kasus pajak PT Surya Alam Tunggal sebesar Rp 570.952.000, tetapi atasan Gayus yang memiliki tanggung jawab lebih besar tidak dijamah.

Beberapa kejanggalan tersebut menguatkan kesan adanya pilih kasih penyidikan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Kesan ini memunculkan probabilitas bahwa ada kekuatan besar yang menekan penegak hukum. Ada “gurita” yang mencengkeram penegak hukum supaya tak menuntaskan kasus Gayus.

Gurita ini yang bisa jadi berjibaku menjaga kotak Pandora Gayus agar tidak terbuka menganga. Sebab, seluruh keterangan yang dimiliki Gayus terhadap beberapa perusahaan besar yang nakal dan keterlibatan oknum penegak hukum jika diperiksa secara seksama akan menghempaskan kelompok ekonomi kuat dan kelompok politik yang semula bermain api dengan Gayus. Supaya seluruh kebusukan tak tercium, kotak pandora Gayus harus disegel rapat.

Membubarkan Pentas

Setidaknya ada dua skema yang memungkinkan kotak Pandora Gayus tetap tertutup. Pertama, kelompok ekonomi kuat dan kelompok politik memaksa masuk mempengaruhi sistem penegakan hukum kasus Gayus. Pemaksaan dilakukan dengan menyodorkan tumpukan rupiah serta godaan politik atas posisi maupun jabatan tertentu. Inisiatif skema ini berasal dari luar penegak hukum. Sedangkan skema kedua bersumber dari inisiatif oknum penegak hukum. Yakni dengan mengundang kelompok ekonomi kuat dan kelompok politik masuk ke sistem penegakan hukum.

Jika skema pertama yang berjalan, harapan kita mempunyai penegak hukum yang bersih dan berintegritas masih sedikit tersisa. Bahwa dorongan itu muncul dari ruang eksternal penegak hukum. Tidak terlalu susah membenahi kondisi ini. Cukup dibutuhkan kemauan keras dan tindakan ekstrim dari petinggi penegak hukum untuk membarikade potensi korup yang menggerogoti sistem dan subjek penegakan hukum. Anak buah yang terbukti nakal dicopot dan disidangkan.

Namun, apabila skema kedua yang hadir, sangat susah mengharapkan munculnya sistem penegakan hukum yang memihak pada keadilan. Kasus Gayus akan terbonsai karena desain korup yang sistemik, yang diciptakan oleh oknum penegak hukum. Pada keadaan oknum penegak hukum yang korup, Bismar Siregar (1995), menyebutnya telah kehilangan keseimbangan dalam jiwanya, tak mempunyai harga diri lagi, tak punya rasa malu, tak mempunyai kehormatan profesi, dan memiliki rasa prikemanusiaan yang tidak normal.

Seperti pemaparan Johnson Panjaitan, anggota Indonesia Police Watch (IPW), di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu, janggalnya penanganan kasus Gayus adalah hasil kerjaan mafia. Untuk menuntaskannya memerlukan kerja ekstra-keras dari penegak hukum yang bersih.

Nota pembelaan Gayus harus menjadi pintu membersihkan seluruh sampah yang mengotori sistem penegakan hukum. Saat salah satu aktor utama adegan skandal perpajakan sudah buka mulut, kiranya tak sulit menemukan aktor lainnya. Semakin cepat semua aktor ditemukan dan diproses secara hukum, semakin cepatlah pentas gurita mafia dibubarkan. Itu kalau para petinggi penegakan hukum dan petinggi negeri ini masih sudi membangun negeri yang bebas korupsi.

 

Hifdzil Alim, Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum UGM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s