Gayus, The Special One

OPINI, Kedaulatan Rakyat, 25 Nopember 2010

Untuk membarter diamnya Gayus dalam kasus penggelapan pajak, maka harus disuguhkan sebuah kompromi hitam yang saling menguntungkan dua pihak. Gayus akan memetik untung karena kasusnya tak lama diproses dan palu hakim tak terlalu berat menjatuhkan hukuman. Dan oknum potensial (atau si pengundang) itu akan bernapas lega karena kasusnya tak terjamah hukum

Gonjang-ganjing keluarnya Gayus Halomoan Tambunan, tersangka penggelapan pajak Rp 24,6 miliar, dari rumah tahanan Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat selesai sudah. Dalam persidangan dirinya di PN Jakarta Selatan (15/11/2010), Gayus mengaku di depan majelis hakim mengenai kepergiannya ke Bali. Gayus beralasan kedatangannya ke Bali karena stres menghadapi persidangannya selama ini.

Atas kasus perginya Gayus ini, Polri sudah tetapkan sembilan tersangka dari petugas rutan Mako Brimob (KR, 16/11/2010). Polri mencopot kepala Rutan Mako Brimob Kompol Iwan Suswanto dan delapan bawahannya. Kompol Iwan diduga menerima duit Rp 368 juta dari Gayus. Sedangkan para bawahannya ditengarai mendapat jatah Rp 5 juta per orang.

Kasus plesiran Gayus ke even CommonwealthBank Tournament of Champions di Bali semakin mencengangkan tatkala pada pertandingan tersebut hadir juga salah satu “orang kuat” negeri ini. Adalah Abu Rizal Bakrie alias Ical, pucuk pimpinan grup Bakrie yang memiliki saham di PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin, dan PT Bumi Resources, perusahaan yang diduga terkait dengan tindak kejahatan penggelapan pajak Gayus.

Ical sendiri menyangkal keberadaan dirinya dalam pertandingan tenis antara Daniela Hantuchova melawan Yanina Wickmayer di Bali (5/11/2010) dikaitkan dengan hadirnya Gayus. Dia menyatakan, adanya isu yang mengaitkan dirinya dengan Gayus tak layak diteruskan. Isu itu adalah sebuah intrik politik yang tidak bermanfaat bagi bangsa yang produktif (Suara Karya, 18/11/2010).

The Special One

Namun demikian, kehadiran Ical dengan Gayus pada even yang sama—dan waktu yang hampir bersamaan—menimbulkan spekulasi publik. Paling tidak ada dua spekulasi. Pertama, kedatangan Gayus ke Bali memang atas inisiatifnya sendiri serta ingin melepas penat karena proses persidangan yang sedang dijalaninya. Atau spekulasi yang kedua, Gayus datang karena mendapatkan semacam undangan dari seseorang.

Sebenarnya tak terlalu penting membincangkan datangnya inisiatif. Sebab, inisiatif yang muncul dari siapapun, baik dari Gayus atau pun dari seseorang yang mengundangnya, pertanggungjawabannya akan ditimpakan kepada mereka berdua. Yang menjadi penting untuk dicari tahu adalah kalau spekulasi yang kedua yang benar, maka apa agenda substansial undangan di Bali itu?

Dalam kasus penggelapan pajak yang menjerat Gayus saat ini, posisi Gayus bak kartu As. Dia menjadi the special one. Keistimewaannya adalah seluruh informasi mengenai siapa saja wajib pajak yang pernah menyuapnya, perusahaan mana saja yang sering menggunakan jasanya, terekam dengan lengkap di memori otaknya.

Gayus seperti pendulum untuk dua arah. Ketika dia memilih diam dan ingin mengarahkan pendulum ke peti es kasus penggelapan pajak yang menjerat dirinya, maka semua keterangan tentang wajib pajak dan perusahaan yang menggunakan jasanya akan ikut terkubur dalam-dalam dengan diamnya. Alhasil, semua oknum yang pernah turut serta dengan aksi jahatnya akan aman.

Lain hal kalau Gayus ternyata ingin mengarahkan pendulum ke titik pembongkaran kasus penggelapan pajak, maka seluruh informasi mengenai wajib pajak dan perusahaan pengemplang pajak bakal terbeber di meja pengadilan. Keadaan inilah yang boleh jadi sangat dihindari oleh oknum yang potensial disebut oleh Gayus.

Untuk membarter diamnya Gayus dalam kasus penggelapan pajak, maka harus disuguhkan sebuah kompromi hitam yang saling menguntungkan dua pihak. Gayus akan memetik untung karena kasusnya tak lama diproses dan palu hakim tak terlalu berat menjatuhkan hukuman. Dan oknum potensial (atau si pengundang) itu akan bernapas lega karena kasusnya tak terjamah hukum.

Kompromi ini yang mesti dijadikan salah satu prioritas oleh Kepolisian agar ditemukan jawabannya.

Potret Kebobrokan

Di sisi lain, keluarnya Gayus memberikan satu bingkai ke publik bahwa isu mafia hukum yang melingkari penegak hukum dan penegakan hukum kita bukanlah sekadar wacana. Mafia hukum nyata adanya.

Kasus plesiran Gayus menampilkan potret kebobrokan dalam upaya menciptakan penegakan hukum yang bersih. Aparat dan abdi hukum terjungkal nyaman dalam belaian para mafia yang memperjualbelikan ayat dan pasal undang-undang.

Agar potret kebobrokan ini tidak terpajang lama, harus ada usaha luar biasa dari pemimpin negeri dan pemerintah untuk membongkarnya. Kapolri Timur Pradopo yang berjanji akan menuntaskan kasus ini dalam waktu 10 hari (KR, 18/11/2010) diharapkan tak hanya menuntaskan kasus yang menyita perhatian publik ini diujung kuku. Maksudnya, pemeriksaan jangan berhenti di sembilan tersangka saja (1 Kepala rutan dan 8 bawahan), tetapi harus disidik dengan cermat pimpinan di atasnya.

Keputusan untuk memberikan akses keluar masuk rutan bagi tahanan big fish alangkah mungkin diketahui oleh para pemimpin di atas kepala rutan. Apabila pemeriksaan berhenti di sembilan tersangka itu, maka kesempatan untuk membongkar mafia hukum akan terbuang percuma.

Hifdzil Alim

(Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum UGM;

S2 Magister Ilmu Hukum UGM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s