Ujian Pertama Kapolri

WACANA, Suara Merdeka, 13 Nopember 2010

Kapolri patut memeriksa bawahannya atas kasus foto itu. Untuk menjamin integritas pemeriksaan, penting mengikutsertakan pemeriksa eksternal. Menjaga korps Polri agar tetap bersih dari praktik mafia adalah wajib dilaksanakan. Tak hanya Polri, catur wangsa lainnya (kejaksaan, pengadilan, dan pengacara) juga wajib bersih. Berikutnya, warga sipil juga harus turut mendukung catur wangsa untuk bersih

JEPRETAN foto wartawan pada CommonwealthBank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali (05/11/10) menggemparkan dunia penegakan hukum Indonesia. Pasalnya, dia mengambil foto wajah mirip sekali dengan orang yang sedang menjalani persidangan atas dugaan penggelapan pajak sebesar Rp 25 miliar, Gayus Halomoan Tambunan.

Memang hasil jepretan belum bisa dimintakan konfirmasi secara jelas. Apakah wajah yang ditangkap foto itu benar-benar Gayus atau bukan. Namun setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama; boleh jadi orang yang diambil gambarnya bukan Gayus. Ketika kemungkinan itu yang diperoleh, kita tidak akan mendegupkan jantung dengan keras. Penegakan hukum masih bersih.

Kedua, boleh jadi wajah itu benar milik Gayus. Kalau kemungkinan ini yang kita dapatkan, sebentar jantung kita sunyi-senyap. Lalu sontak berdegup kencang. Penegakan hukum negeri ini luluh-lantak, terkontaminasi, atau bahkan menceburkan diri dalam kubangan persekongkolan jahat: mafia hukum.

Jika kemungkinan kedua itu benar (karena kita menghormati asas praduga tidak bersalah), sangkaan bahwa ada mafia hukum menggurita dalam penegakan hukum bukanlah isapan jempol. Pertanyaannya, kenapa Gayus bisa menonton pertandingan tenis, padahal dia ditahan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jabar?

Kapolri patut memeriksa bawahannya atas kasus foto mirip Gayus itu. Untuk menjamin integritas pemeriksaan, penting mengikutsertakan pemeriksa eksternal. Menjaga korps Polri agar tetap bersih dari mafia adalah perihal yang wajib dilaksanakan. Tak hanya kepolisian, catur wangsa lainnya (kejaksaan, pengadilan, dan pengacara) juga wajib bersih. Berikutnya, warga sipil juga harus turut mendukung catur wangsa untuk bersih. Sebab, penegak hukum akan menjadi benar ketika kita juga tak menggodanya dengan imbalan apapun.

Gayus adalah tersangka dalam penggelapan pajak miliaran rupiah. Tertangkapnya dia membuka borok penegak hukum. Oknum perwira kepolisian, jaksa, hakim, pengacara, bahkan warga sipil diduga turut menikmati rupiah yang dikumpulkan dia dalam perbuatan jahatnya.

Sebut saja, Kompol Arafat Enanie yang divonis PN Jakarta Selatan dengan hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 150 juta (20/09/10). AKP Sri Sumartini dijatuhi hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 50 juta (06/10/10).

Warga sipil yang diduga turut serta dalam perbuatan jahat nya juga sudah diganjar. Alif Kuncoro, terdakwa yang diduga menyuap, dipidana 1,5 tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

ATM Berjalan

Selain itu, ada Muhtadi Asnun (hakim), Andi Kosasih (pengusaha), Haposan Hutagalung dan Lambertus Palang Ama (pengacara), yang berkasnya masih diperiksa di pengadilan, Mereka semua disangka terlibat persekongkolan Gayus. Belum lagi ada beberapa perwira tinggi kepolisian dan jaksa yang juga diduga terlibat tetapi belum diperiksa.

Dengan banyaknya penegak hukum (polisi, jaksa, hakim), bahkan pengacara serta pengusaha yang terlibat dalam kasus Gayus menandakan bahwa dia menjadi ‘’mutiara’’’ yang berharga mahal. Dia menjadi gudang rupiah. Menjadi automatic teller machine (ATM) berjalan yang sewaktu-waktu dapat ditarik. Seperti kartu kredit yang setiap saat bisa digesek.

Dalam hubungan dengan foto Gayus di Bali, masyarakat akan menimpakan tuduhan paling mudah ke polisi sebab saat ini dia berada dibawah tanggung jawabnya. Mabes Polri menyatakan bahwa sebelumnya Gayus meminta izin keluar rutan untuk berobat dan sudah kembali. Kasus foto Gayus itu menjungkalkan pernyataan Mabes Polri.

Kasus foto ini menjadi ujian pertama bagi Kapolri Timur Pradopo. Tatkala diangkat sebagai orang nomor 1 di Polri, salah satu komitmen dan janjinya adalah tidak akan menerima hadiah atau pemberian apapun, dari siapapun berkaitan jabatannya (SM, 23/10/10). Janji ini tak hanya berlaku bagi dirinya, akan tetapi juga bagi bawahan dan jajarannya. Adalah tak benar, tatkala sang kepala bersih, sedang tangan-kakinya bercelemot lumpur: terlibat penyelewengan, pelanggaran hukum, koruptif, dan terbelit mafia hukum.

Kapolri patut memeriksa bawahannya atas kasus foto itu. Untuk menjamin integritas pemeriksaan, penting mengikutsertakan pemeriksa eksternal. Menjaga korps Polri agar tetap bersih dari praktik mafia adalah wajib dilaksanakan. Tak hanya Polri, catur wangsa lainnya (kejaksaan, pengadilan, dan pengacara) juga wajib bersih. Berikutnya, warga sipil juga harus turut mendukung catur wangsa untuk bersih. (10)

— Hifdzil Alim, peneliti pada Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum UGM, mahasiswa Magister Ilmu Hukum UGM

Sila klik http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/13/130017/Ujian-Pertama-Kapolri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s